Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari 1st, 2010

Doktrin Kepercayaan Dalam Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sesungguhnya Islam itu adalah agama samawi terakhir , ia berfungsi sebagai rahmat dan ni’mat bagi manusi seluruhnya. Maka Allah SWT mewahyukan agama ini dalam nilai kesempurnaan yang tinggi, kesempurnaan mana meliputi segi – segi fundamental tentang duniawi dan ukhrawi, guna menghantarkan manusia kepada kebahagian lahir dan bathin serta dunia dan akhirat. Sebab itu Islam bersifat universal dan internal lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nurani manusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Maka kuensekuensinya, islam menjadi agama dakwah, yakni agama yang telah disampaikan kepada seluruh manusia, yang telah ditegaskan pula denga teks –teks yang jelas dalam sumber ajarannya, yatitu Alquran dan hadist. Ajaran – ajaran Islam perlu diterapkan dalam segala bidang hidup dan kehidupan manusia, dijadikan juru selamat yang hakiki didunia dan akhirat, menjadikan Islam seagai nikmat dan kebanggan manusia.
Seperti yang telah dicontohkan dalam penyebaran Islam pertama, jaman Rsulullah di abad ke VII, kemudian dizaman pengganti – pengganti beliau Khulafaur – Rasyidien, menyusul di zaman keemasan Islam. Sejarah membuktikan bahwa kedatangan Islam dizaman itu benar – benar menjadi juru selamat dan kebanggaan yang tak ada taranya, manusia menikmati Islam sebagai karunia dan Rahmat Ilahi
Islam adalah agama aqidah dan syariah. Perpaduan antara keduanya adalah syarat suatu kebenaran. Keikhlasan dan amal sholeh baik, benar dan laik menurut Allah harus tercermin dan terpadu dalam setiap kepribadian muslim. Aqidah adalah unsur mendasar yang harus dipahami dan dimiliki manusia. Ia merupakan pijakan dan frame segala pemikiran, perasaan dan prilakunya dalam mengarahkan kehidupan ke arah yang benar. Istilah yang menjadi standar kebenaran berfikir, merasakan dan bertindak ini hendaknya menjadi perhatian prioritas pemahaman dan keilmuan sebelum segala sesuatunya.
Tidak satupun Nabi dan Rasul diutus melainkan untuk menjelaskan dan meluruskan dua asas ini. Bias tentang standar kebenaran yang sering muncul adalah akibat mengabaikan unsur ini. Padahal puncak pencarian kebenaran akan berakhir pada siapa yang menghendaki sesuatu kebenaran dan cara pencapaiannya. Siapa saja yang memahami dan berbuat sesuai dengan kehendaknya maka akan dinilai sebagai kebenaran. Keyakinanlah yang kemudian menggiring dan mengharuskan seseorang mematuhi setiap kehendaknya.
Dengan demikian yang menjadi persoalan sekarang adalah siapa yang harus kita yakini sebagai seseorang yang menghendaki kebenaran. Dari sekian yang dianggap paling mengetahui tentang kehendak suatu kebenaran adalah Pencipta kebenaran itu sendiri. Dia-lah Yang Maha mengetahui kebenaran tujuan, kewajiban dan hak manusia dalam kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Puncak dan akhir pengabdian dan penyerahan diri yang harus kita buktikan akan bermuara pada siapa Pencipta ini. Selanjutnya bagaimana cara memahami dan menyikapi kehendak tersebut dalam kehidupan nyata. Tentu saja hanya petunjuk-Nya semata yang dijamin kebenarannya dalam memaparkan kehendaknya. Oleh karena itu, kami membuat Makalah dengan Judul ” Doktrin Kepercayaan dalam Islam ” mudah-mudahan dalam penyusunan ini berada dalam maghfirah dan berada dalam kelancaran sehingga tidak keluar dari jalur-jalur agama Islam.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka penyusun merumuskan masalah untuk dikaji. Masalah pokok dalam pembahasan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Apa saja doktrin-doktrin ajaran dalam Islam ?
b. Apakah dzat Allah dapat diketahui ?
c. Bagaimana cara mengimani rukun Iman ?
d. Bagaimana argumen keberadaan Allah swt ?
C. Tujuan Masalah
Dalam penyusunan Makalah ini dengan tujuan sebagai berikut :
1. Bisa menyebutkan doktrin-doktrin ajaran dalam Islam
2. Untuk mengetahui penjelasan tentang dzat Allah
3. Untuk mengetahui cara mengimani rukun Iman
4. Untuk mengetahui argumen keberadaan Allah swt.
D. Metode Penulisan
Metode yang dipakai oleh penulis adalah metode kepustakaan yaitu dengan cara membaca buku-buku yang berkenaan dengan permasalahan yang akan dibahas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Iman kepada Allah SWT
Bentuk pernyataan pengakuan terhadap Allah terinflikasi pada pengakuan-pengakuan lainnya yang berhubungan dengan seperti Dzat Allah, sifat-sifat Allah, kehendak Allah, perbuatan (Af”al Allah), malaikat Allah, para Nabi dan utusan Allah, hari kiamat, surga dan neraka. Oleh karena itu, ia yang merupakan kalimat yang terdapat dalam hadis Qudsi ini sangan syarat nilai. Pengakuan terhadap keberadaan Allah berarti menolak keberadaan Allah, yang dianut oleh para pengikut agama selain Islam.

B. Kemustahilan Menemukan Dzat Allah SWT
Allah adalah Maha Esa yang berarti Allah itu tidak tersususn dari beberapa bagian yang terpotong-potong dan Dia pun tidak mempunyai sekutu. Dan Esa dalam perbuatan (Af’al) ialah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengerjakan sesuatu yang menyerupai perbuatan Allah.
Allah dengan sifat Rahman dan Rahimnya, telah membekali manusia dengan akal dan pikiran dalam menjalankan hidupnya. Akal pikiran merupakan ciri keistimewaan manusia, sekaligus pembeda antar manusia dan makhluk lainnya. Manusia mencapai taraf hidupnya yang mulia melalui pikiran, sebaliknya manusia pun terpuruk kehidupan yang hina melalui akalnya. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh akal ialah Dzat Allah. Dalam Q.S. Al-An’am ayat 103, Allah berfirman:
          

“ Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus Lagi Maha Mengetahui “.

C. Argumen Keberadaan Allah SWT
Ada tiga teori yang menerangkan asal kejadian alam semesta yang mendukung keberadaan Allah. Pertama, paham yang mengatakan alam semesta ini ada dari yang tidak ada (creatio ex-nihilo). Kedua, paham yang mengatakan alam semesta ini berasal dari sel (jauhar) yang merupakan inti. Ketiga, paham yang mengatakan alam semesta itu ada yang menciptakan.
Al-Farabi dengan teori pancarannya mengatakan alam semesta ini adalah hasil pancaran wujud kesebelas atau akal kesepuluh. Akal pertama adalah sebab pertama, yang merupakan wujud pertama yang melahirkan wujud berikutnya. Wujud pertama adalah Allah.
Ibnu Sina membangun sebuah teori yang disebut teori wujud yang dibangun dalam upaya membuktikan eksistensi tuhan. Teori ini sifat wujud lebih penting dari sifat-sifat lainnya, meskipun sifat esensi sendiri. Wujud menjadikan esensi yang berada didalam akal mempunyai kenyataan diluar akal.
Teori kedua mengatakan alam semesta berasal dari sel, melihat sebagai teori yang lebih sesak daripada teori pertama. Menurutnya sel tidak mungkin mampu menyusun dan memberinya sesuatu pada struktur alam semesta umpamanya, aspek gender dan tatat surya.
Teori ketiga mengatakan alam semesta ada yang menciptakan adalah teori yang bersesuain dengan pemikiran akal yang sehat. Masalah yang kemudian muncul teori ketiga ialah : siapakah yang menciptakan alam semesta ini ?. menurut doktrin Islam, yang hal inipun menjadi aqidah dan keyakinan umat Islam bahwa alam semesta ini adalah Allah, jawaban itu membawa pengertian bahwa Allah itu ada. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelasakan bahwa Allah itu ada. Ayat yang menjelaskan pernyataan tersebut adalah Q.S. Al-Zumar ayat 62-63 :
                       

“ Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaannya ialah langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi “.

Iman kepada Allah adalah doktrin utama dalam Islam yang tidak dapat ditawar lagi.ia adalah dimensi ta’abudi yang terkait dengan petunjuk dan pertolongan Allah atas hambanya.

D. Iman kepada Malaikat, Kitab dan Rasul Allah
1. Malaikat Allah
Malaikat atau terkadang disebut al-mala’ al-a’la adalah makhluk Allah yang diciptakan dari An-Nuur. Malaikat dicipatakan dari cahaya, jin dari nyala api dan Adam dari tanah. Malaikat termasuk makhluk rohani yang bersifat gaib mereka disucikan dari syahwat kebinatangan yang terhindar dari keinginan hawa nafsu yang bersifat materil. Tidak seorang pun yang tidak tahu hakekat malaikat kecuali Allah dan orang-orang yang telah ditentukannya.
Menurut Fazlur Rahman malaikat adalah makhluk langit yang mengabdi kepada Allah yang masing-masing mempnyai tugas yang berbeda. Antara malaikat yang satu dengan yang lainnya memilki beberapa perbedaan, seperti kedudukan dan pangkat yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Tugas malaikat itu ada yang dikerjakan dialam ruh dan ada pula dialam dunia.
2. Kitab-Kitab Allah
Ayat-ayat Allah merupakan ajaran dan tuntutan itu dapat dibedakan menjadi dua : pertama, ayat yang tertulis didalam kitabnya dan kedua ayat yang tidak tertulis, yaitu alam semesta. Ayat yang tertulis terformalisikan dalam empat kitab :
• Al-qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
• Injil kepada Nabi Isa AS
• Taurat kepada Nabi Musa AS
• Zabur kepada Nabi Daud AS
Keempat kitab-kitab itu disebut kitab langit, karena kitab itu diyakini umat Islam sebagai firman Allah yang diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul. Isalm mengajarkan bahwa mempercayai dan mengimani semua kitab Allah itu adalah wajib.
a. Al-Qur’anul Karim
Al-qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad selama 22 tahun lebih dan diturunkan didua kota yaitu Mekah dan Madinah, Al-qur’an dibagi menjadi 30 juz dan terdiri atas 114 surat. Al-qur’an menempati posisi yang sangat penting dan mempunyai keistimewaan diantaranya pertama, Al-qur’an memuat ringkasan ajaran yang dibawa oleh ketiga kitab sebelumnya seperti aspek keesaan dan keimanan kepada Allah, keimanan kepada rasul, kebenaran atas hari akhir, surga dan neraka. Kedua, sebagai kitab terakhir, al-qur’an memuat kalam Allah terakhir sebagai petunjuk dan pemimpin bagi manusia didunia. Kemurnian Al-qur’an isinya sangat terjaga dan terpelihara dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Ketiga, keberlakuan al-qur’an tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Keempat, Al-qur’an merupakan kitab suci agama Islam.
b. Kitab Injil
Kitab injil adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Isa AS. Keberlakuan injil dibatasi oleh waktu, yaitu sampai saat datang dan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Pada mulanya kitab yang disebut terakhir ini hanya memuat kalam Allah. Tetapi perkembangannya mengalami perubahan yaitu masuknya tulisan-tulisan para pengikut Nabi Isa AS sehingga berubah pada bentuk dan isinya yang asli. Mereka yang memasukkan tulisan kedalam injil adalah Mathius, Markus, Lukas dan Yahya. Kitab injil yang ditemui sekarang diidentifikasi dengan nama-nama mereka.
c. Kitab Taurat
Taurat (Ibrani: Thora) : merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Musa AS. Oleh karena itu keberlakuan kitab inipun dibatasi yaitu sampai tiba kitab Allah berikutnya. Kitab taurat yang beredar sudah tidak murni lagi karena terdapat sejumlah penambahan dari para pengikutnya.
A. Hafidz Dasuki menjelaskan bahwa taurat salah satu dari tiga komponen (thora, nabiin dan khetubiin) didalm kitab suci agam yahudi disebut Biblia,oleh orang kristen disebut dengan Old testament. Isi dari utama darikitab taurat adalah perintah tuhan tersebut adalah 1. hormati dan cintailah satu Allah, 2. sebutkanlah nama Allah dengan hormat, 3. sucikanlah hari tuhan, 4. hormatilah lbu dan bapak, 5. dilarang membunuh, 6. dilarang berinah, 7. dilarang mencuri, 8. dilarang berdusta, 9. jangan ingin berbuaqt cabul, 10. jangan ingin memilki barang orang lain dengan cara yang tidaj halal.
d. Kitab Zabur
Istilah Zabur yang kata jamaknya Zubur didalam Al-qur’an terdapat pada beberapa tempat. Dalam bahasa Arab disebut juga Mazmur dan jamaknya Mazamir, dalam bahasa Ibrani disebut Mizmar, dalam bahasa Suriani disebut Mazmor dan bahasa Ethiopia disebut Mazmur.
3. Rasul-rasul Allah SWT
Doktrin Islam mengajarakn agar setiap Islam tidak membedakan antara satu Rasul dengan lainnya. Secara bahasa Rasul adalah orang yang diutus, yang artinya ia diutus untuk menyampaikan berita rahasia, tanda-tanda yang akan datang dan masa risalah.
Para ulama dalam mengartikan Rasul dan Nabi dibagi dua kelompok, kelompok pertama mempersamakan arti keduanya dan kelompok kedua membedakannya. Rasul adalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah dari keturunan yang mulia yang diberi keistimewaan baik akal maupun kesucian rohani. Sebagai manusia biasa rasul adalah seperti layaknya manusia lainnya yang suka makan, minum, tidur dan seksual.
Diantara tugas yang diemban para Rasul, pertama mengajarkan tauhid dengan segala sifatnya, kedua mengajak manusia agar menyembah dan meminta kepada Allah, ketiga mengajarkan manusia agar memilki moral atau akhalak yang mulia, keempat mengajarkan kepada manusia agar selamat didunia dan akhirat, kelima mengajak manusia bersemangat dalam bekerja dan berusaha yang menjauhkan sifa-sifat malas sehingga terjadi keseimbangan antara dunia dan akhirat, keenam mengajak manusia tidak mengikuti hawa nafsu, ketujuh menyampaikan berita yang bersifat gaib seperti malaikat, surga dan neraka, alam kubur dan alam akhirat.
Dalam rangka menyampaikan tugas risalahnya, para rasul diberikan sifat-sifat oleh Allah sebagai berikut :
• Shiddiq artinya jujurdan benar serta terhindar dari sifat dustanya (al-kidzb) atau bohong.
• Amanah dapat dipercaya.
• Tabligh menyampaikan.
• Fathanah artinya bijaksana.
• Ma’shum artinya senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah.
Jumlah Nabi dan Rasul tidak diketahui secara pasti, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa jumlah nabi adalah 124000 orang dan Rasul sebanyak 313 orang adapun jumlah Nabi dan Rasul pada umumnya diketahui berjumlah 25 orang.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Quran tidak memberikan penjelasan secara sistem tentang kepercayaan atau ibadat, tetapi kitab tadi muncul sebagai keseluruhan sejumlah doktrin dan amal ibadat yang seragam dan pasti. Doktrin dan ibadat tadi sepanjang masa merupakan inti sari dan ilham bagi kehidupan keagamaan umat Islam. Pasal itu akan dikupas secara ringkas dalam bab ini, sedang bab-bab yang selanjutnya akan menyelami perkembangan ilmu tauhid dan ibadat menjadi lebih halus.
Memang serba aneh, bahwa syahadah yang masyhur atau pengakuan iman: la ilaha illa’llah muhammadun rasulu’llah ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad adalah utusan Tuhan’ tidak terdapat dalam bentuk tergabung demikian di dalam Quran, akan tetapi kedua pasal disebutkan sendiri-sendiri. Boleh dianggap sebagai garis besar iman –dan acap kali diterima oleh para muslimin sebagai demikian
B. Saran
Saran yang ingin penulis sampaikan hendaklah kita jadikan Al-qur’an dan As-sunah sebagai landasan hidup kita didunia, dari segala apa yang kita perbuat agar tidak terjadi penyimpangan dalam memahami ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Razak, Nasrudin. Dienul Islam. 1982. PT. Al-Ma’arif : Bandung
Djamari,Agama dalam persfektif sosiologi,Bandung: Alfabeta. 1993

Drs. Atang Abdul Hakim dan DR. Jaih Mubarak MA. Metodologi Studi Islam. 1999. Rosda Karya, Bandung.

Read Full Post »

Ilmu Filsafat Islam

BAB I
PENDAHULUAN

Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mereka yang berfikir maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam.
Sedangkan bagi mereka yang bersifat tradisional yakni berpegang teguh pada dokrin ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits tekstual, cenderung kurang mau menerima filsafat bahkan menolaknya.
Barangkali kita sepakat bahwa dengan mengkaji metodologi penelitian filsafat yang dilakukan para ahli, kita ingin meraih kembali kejayaan Islam di Bidang Ilmu pengetahuan sebagaimana yang pernah dialami di Zaman klasik.
Hal ini terasa lebih diperlukan pada saat bangsa Indonesia menghadapi tantangan zaman pada era blobalisasi yang demikian berat. Untuk itu, pada bab ini kita akan mengkaji berbagai metode dan pendekatan yang digunakan para ahli dalam meneliti filsafat, dengan terlebih dahulu mengemukakan pengertian filsafat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN FILSAFAT
Dari segi bahasa, filsafat Islam terdiri dari gabungan kata filsafat dan Islam. Kata filsafat dari kata philo yang berarti cintaa, dan kata sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian secara bahasa filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Dalam hubungan ini, Al-Syaibani berpendapat bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Untuk ini ia mengatakan bahwa filsafat berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Selanjutnya kata Islam berasal dari kata bahasa Arab aslama, yuslimu islaman yang berarti patuh, tunduk, pasrah, serta memohon selamat dan sentosa. Kata tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman dan damai. Selanjutnya Islam menjadi suatu istilah atau nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran –ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi kehidupan manusia. Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu ialah Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Selanjutnya apakah yang dimaksud dengan filsafat Islam itu? untuk ini terdapat sejumlah pakar yang mengemukakan pendapatnya. Musa Asy’ari, misalnya, mengatakan filsafat islam itu pada dasarnya merupakan medan pemikiran yang terus berkembang dan berubah. Dalam kaitan ini, diperlukan pendekatan histories terhadap filsafat Islam yang tidak hanya menekankan pada studi tokoh, tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami proses dialektik pemikiran yang berkembang melalui kajian-kajian tematik atas persoalan-persoalan yang terjadi pada setiap zaman. Oleh karena itu, perlu dirumuskan prinsip-prinsip dasar filsafat Islam, agar dunia pemikiran Islam terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Lebih lanjut Musa Asy’ari berpendapat bahwa filsafat islam dapat diartikan juga sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islami. Islam disini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat disebut Islami bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam, atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi objeknya yang membahas mengenai pokok-pokok keislaman.
Selanjutnya dijumapi pula pengertian Filsafat Islam yang dikemukakan oleh Amin Abdullah. Dalam hubungan ini ia mengatakan: “ meskipun saya tidak setuju untuk mengatakan bahwa filsafat Islam tidak lain dan tidak bukan adalah rumusan pemikiran Muslim yang ditempeli begitu saja dengan konsep filsafat Yunani, namun sejarah mencatat bahwa mata rantai yang menghubungkan gerakan pemikiran filsafat Islam era kerajaan Abbasiyah dan dunia luar di wilayah Islam, tidak lain adalah proses panjang asimilasi dan akulturasi kebudayaan Islam dan kebudayaan Yunani lewat karya –karya filosof Muslim, seperti Alkindi ( 185 H/801 M. – 260 H/ 873 M), Al-Farabi ( 258 H/ 870 M – 339 H/ 950 M), Ibn Miskawaih ( 320 H./ 923 M – 421 H./ 1030 M.) Ibn Sina ( 370 H/ 980 M. – 428 H/ 1037 M), Al-Ghazali (450 H/1058 M. -505 H/ 1111 M) dan Ibnu Rusyd ( 520H/ 1126 M- 595 H/1198 M). Filsafat profetik ( Kenabian), sebagai contoh, tidak dapa kita peroleh dari karya-karya Yunani. Filsafat kenabian adalah trade mark filsafat Islam. Juga karya-karya Ibn Bajjah ( wafat 553 H/ 1138 M), Ibn Tufail ( wafat 581 H. / 1185 M) adalah spesifik dan orisinal karya filosof Muslim.
Selanjutnya, Damardjati Supadjar berpendapat bahwa dalam istilah filsafat Islam terdapat dua kemungkinan pemahaman konotatif. Pertama, filsafat islam dalam arti filsafat tentang Islam yang dalam bahasa inggris kita kenal sebagai Philosophy of Islam. Dalam hal ini islam menjadi bahan telaah, objek material suatu studi dengan sudut pandang atau objek formalnya, yaitu filsafat. Jadi disini Islam menjadi genetivus objectivus. Kemungkinan kedua, ialah filsafat Islam dalam arti Islamic Philosophy, yaitu suatu filsafat yang islami. Di sini Islam menajdi genetivus subjektivus, artinya kebenaran Islam terbabar pada datarran kefilsafatan.
Dalam pada itu dijumpai pendapat Ahmad Fuad Al-Ahwani yang mengatakan bahwa filsafat Islam ialah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam-macam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.
Berdasarkan pendapat diatas, Filsafat Islam dapat diketahui melalui lima cirinya sebagai berikut : Pertama, dilihat dari segi sifat dan coraknya, filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan sifat dan coraknya yang demikian itu, filsafat Islam berbeda dengan filsafat Yunani atau filsafat pada umumnya yang semata-mata mengandalkan akal pikiran ( rasio). Kedua dilihat dari segi ruang lingkup pembahasannya, filsafat Islam mencakup pembahasan bidang fisika atau alam raya yang selanjutnya disebut bidang kosmologi, masalah ketuhanan dan hal-hal lain yang bersifat non materi yang disebut bidang metafisika, masalah kehidupan di dunia, kehidupan akhirat, masalah ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lain sebagainya. kecuali masalah zat Tuhan. Ketiga, dilihat dari segi datangnya, filsafat Islam sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri, tepatnya ketika bagian dari ajaran Islam memerlukan penjelasan secara rasional dan filosofis, keempat, dilihat dari segi yang mengembangkannya, filsafat Islam dalam arti materi pemikiran filsafatnya, bukan kajian sejarah, disajikan oleh orang-orang yang beragama Islam, seperti Al-Kindi, Alfarabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Tufail, Ibn Bajjah. Kelima, dilihat dari segi kedudukannya, filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya seperti fiqih, ilmu kalam, tasawuf , sejarah kebudayaan Islam dan Pendidikan Islam.
Berbagai bidang yang menjadi garapan filsafat Islam telah diteliti oleh para ahli dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan secara seksama, dan hasilnya telah dapat kita jumpai saat ini. Beberapa hasil penelitian tentang filsafat islam tersebut perlu dikaji, selain bahan informasi untuk mengembangkan wawasan kita mengenai filsafat Islam, juga untuk mengetahui metode dan pendekatan yang digunakan para peneliti tersebut, sehingga pada gilirannya kita dapat mengembangkan pemikiran filsafat Islam dalam rangka menjawab berbagai masalah yang muncul di masyarakat.
B. MODEL – MODEL PENELITIAN FILSAFAT ISLAM
Di bawah ini kita sajikan berbagai model penelitian filsafat Islam yang dilakukan para ahli dengan tujuan untuk dijadikan bahan perbandingan bagi pengembangan filsafat Islam selanjutnya.
1. Model M. Amin Abdullah
Dalam rangka penulisan disertasinya, M. Amin Abdullah mengambil bidang penelitiannya pada masalah filsafat Islam. Hasil penelitiannya ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul The Idea Of Universality Ethical Norm In Ghazali and Kant. Dilihat dari segi judulnya, penelitian ini mengambil metode penelitian kepustakaan yang bercorak deskriptif, yaitu penelitian yang mengambil bahan-bahan kajiannya pada berbagai sumber baik yang ditulis oleh tokoh yang diteliti itu sendiri ( sumber primer ), maupun yang ditulis oleh orang lain mengenai tokoh yang ditelitinya itu ( sumber skunder ). Bahan –bahan selanjutnya diteliti keotentikannya secara seksama, diklasifikasikan menurut variable yang ingin ditelitinya, dalam hal ini masalah etik, dibandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya, dideskripsikan ( diuraikan menurut logika berfikir tertentu), dianalsis dan disimpulkan.
Selanjutnya, dilihat dari segi pendekatan yang digunakan, M.Amin Abdullah kelihatannya mengambil pendekatan studi tokoh dengan cara melakukan studi komparasi antara pemikiran kedua tokoh tersebut ( Al-Ghazali dan Immanuel Kant), khususnya dalam bidang etika.
Hasil penelitian Amin Abdullah dalam bidang filsafat Islam selanjutnya dapat dijumpai dalam berbagai karyanya baik yang ditulis tersendiri, maupun gabungan dengan karya-karya orang lain. Dalam bukunya yang berjudul Studi Agama Normativitas atau Historisitas?, M. Amin Abdullah mengatakan ada kekaburan dan kesimpangsiuran yang patut disayangkan didalam cara berfikir kita, tidak terkecuali di lingkungan perguruan tinggi dan kalangan akademis. Tampaknya kita sulit membedakan antara filsafat dan sejarah filsafat, anatar filsafat Islam dan Sejarah Filsafat Islam. Biasanya kita korbankan kajian filsafat, karena kita selalu dihantui oleh trauma sejarah abad pertengahan, ketika sejarah filsafat Islam diwarnai oleh pertentangan pendapat dan perhelatan pemikiran antara Al-Ghazali dan Ibn Sina, yang sangat menentukan jalannya sejarah pemikiran umat Islam.
Kritik Amin Abdullah tersebut timbul setelah ia melihat melalui penelitiannya, bahwa sebagian penelitian Filsafat Islam yang dilakukan para ahli selama ini berkisar pada masalah sejarah Filsafat Islam, dan bukan pada Materi Filsafatnya itu sendiri.
Penelitian yang polanya mirip dengan Amin Abdullah tersebut dilakukan pula oleh Sheila McDonough dalam karyanya yang berjudul Muslim Ethics and Modernity : A comparative Study of The Ethical Thought of Sayyid Ahmad Khan and Maulana Mawdudi. Buku tersebut telah diterbitkan oleh Wilfrid Laurier University Press, kanada, pada tahun 1984. Dalam buku tersebut yang menjadi objek penelitian adalah Ahmad Khan dan Mawlana Mawludi yang keduanya adalah orang Pakistan dan telah dikenal di dunia Islam. Penelitian tersebut termasuk kategori penelitian kualitatif, berdasar pada sumber kepustakaan yang ditulis oleh kedua tokoh tersebut atau oleh orang lain mengenai tokoh tersebut. Sedangkan corak penelitiannya adalah penelitian deskriftis analitis, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tokoh dan komparatif studi. Melalui penelitian demikian akan dapat dihasilkan kajian mendalam dalam salah satu bidang kajian, serta latar belakang pemikiran yang menyebabkan mengapa kedua tokoh tersebut mengemukakan pendapatnya seperti itu.
2. Model Otto Horrassowitz, Majid fakhry dan Harun Nasution
Dalam bukunya yang berjudul History of Muslim Philosophy, yang diterjemahkan dan disunting oleh M.M Syarif ke dalam bahasa Indonesia menjadi para pilosof Muslim. Otto Horrassowitz telah melakukan penelitian terhadap seluruh pemikiran filsafat Islam yang berasal dari tokoh-tokoh filosof abad klasik, yaitu alkindi, Al-Razi, Al-Farabi, Ibn Miskawaih, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Tufail, Ibn Rusyd dan Nasir Al-Din Al-Tusi. Dari Al-Kindi di jumpai pemikiran filsafat tentang Tuhan, keterhinggaan dan Ruh serta Akal. Dari Al-Razi dijumpai pemikiran filsafat tentang teologi, moral metode, metafisika, Tuhan, Ruh, matei, ruang dan waktu. Selanjutnya dari Al-Farabi dijumpai pemikiran tentang logika, kesatuan filsafat, teori kesepuuh kecerdasan, teori tentang akal, teori kenabian, serta penafsiran tentang tafsir al-Qur’an. Dari Miskawaih dijumpai pemikiran filsafat tentang moral, pengobatan rohani, dan filsafat sejarah. Dalam pada itu dari Ibn Sina dikemukakan pemikiran filsafat tentang wujud, hubungan jiwa dan raga, ajaran kenabian, Tuhan dan dunia. Dari Ibn Bajjah dijumpai pemikiran filsafat tentang materi dan bentuk, psikologi, akal dan pengetahuan, Tuhan, sumber pengetahuan, politik, etika dan tasawwuf. Dari Ibnu Tuffail dikemukakan pemikiran filsafat tentang akal dan wahyu sebagai yang dapat saling melengkapi yang dikemas dalam novelnya fiktifya yang berjudul Hay Ibn Yaqzan yang telah dterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. tujuan risalah, dokrin tentang dunia, tuhan, kosmologi cahaya, epistomologi, etika, filsafat, dan agama. Ibn Rusyd, dikemukakan pemikiaran filsafat tentang hubungan filsafat dan agama, jalan menuju Tuhan, jalan menuju pengetahuan, jalan menuju Ilmu, dan jalan menuju wujud. Dalam pada itu dari Nasir Al-Din Tusi dikemukakan pemikiran filsafat tentang akhlak nasiri, ilmu rumah tangga, politik sumber filsafat praktis, psikologi, metafisika, Tuhan, creation ex nibilo, kenabian, baik dan buruk serta logika.
Dengan demikian jelas terlihat bahwa penelitiannya termasuk penelitian kualitatif. Sumbernya kajian pustaka. Metodenya deskriftis analitis, sedangkan pendekatannya histories dan tokoh. Yaitu bahwa apa yang disajikan berdasarkan data-data yang ditulis ulama terdahulu, sedangkan titik kajiannya adalah tokoh.
Penelitian serupa itu juga dilakukan oleh Majid Fakhry. Dalam bukunya yang berjudul A History of Islamic Philosophy dan diterjemahkan oleh Mulyadi Kartanegara menjadi sejarah Filsafat Islam, Majid Fakhry selain menyajikan hasil penelitiannya tentang ilmu kalam, mistisisme, dan kecenderungan –kecenderungan modern dan kontemporer juga berbicara tentang filsafat.
Dalam pada itu Harun Nasuition, juga melakukan penelitian filsafat dengan menggunakan pendekatan tokoh dan pendekatan Historis. Bentuk penelitiannya deskriptif dengan menggunakan bahan-bahan bacaan baik yang ditulis oleh tokoh yang bersangkutan maupun penulis lain yang berbicara mengenai tokoh tersebut. Dengan demikian penelitiannya bersifat kualitatif.
Melalui pendekatan tokoh, Harun Nasution mencoba menyajikan pemikiran filsafat berdasarkan tokoh yang ditelitinya yaitu : Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Pendekatan Historis, Nasution menyajikan tentang sejarah timbulnya pemikiran filsafat Islam yang dimulai dengan kontak pertama antara Islam dan Ilmu pengetahuan serta falsafah Yunani.
3. Model Ahmad Fuad Al- Ahwani
Ahmad Fuad Al-Ahwani termasuk pemikiran modern dari mesir yang banyak mengkaji dan meneliti bidang filsafat Islam. Salah satu karyanya dalam bidang filsafat berjudul Filsafat Islam. Dalam bukunya ini ia selain menyajikan sekitar problema filsafat Islam juga menyajikan tentang zaman penerjemahan. Dikawasan Maghribi ia kemukakan nama Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina. Selain mengemukakan riwayat hidup serta karya dari masing-masing tokoh filosof tersebut, dikemukanan tentang jasa dari masing-masing filosof tersebut serta pemikirannya dalam bidang filsafat.
Sehingga metode penelitian yang ditempuhnya bersifat penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan-bahan kepustakaan. Sifat dan coraknya adalah penelitian deskrfitif kualitatif, sedangkan pendekatannya adalah pendekatan yang bersifat campuran yaitu pendekatan historis, pendekatan kawasan, dan tokoh. Melalui pendekatan Historis dia menjelaskan tentang latar belakang timbulnya pemikiran filsafat dalam Islam, sedangkan dengan pendekatan kawasan ia mencoba membagi tokoh-tokoh filsof menurut tempat tinggal mereka dan dengan pendekatan tokoh. ia mencoba mengemukakan berbagai pemikiran filsafat sesuai dengan tokoh yang mengemukakannya.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Pengertian filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermcam-macam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.
Berdasarkan beberapa pemikiran, filsafat Islam dapat diketahui melalui 5 cirinya :
1. Dilihat dari segi sifat dan coraknya
2. Dilihat dari segi ruang lingkup pembahasannya
3. Dilihat dari segi Datangnya
4. Dilihat dari segi yang mengembangkannya
5. Dilihat dari segi kedudukannya
Berbagai hasil penelitian yang dilakukan para ahli mengenai filsafat Islam tersebut memberi kesan kepada kita, bahwa pada umumnya penelitian yang dilakukan bersifat penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan-bahan bacaan sebagai sumber rujukannya.
Metode yang digunakan pada umumnya bersifat deskriftif analitis. Sedangkan pendekatan yang digunakan umumnya pendekatan historis, kawasan dan substansial.
B. Saran
Kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak berkenaan dengan seluruh isi Makalah ini sangat kami harapkan, atas segala perhatiannya dan bantuan serta kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Abuddin Nata MA. 1998, Metodologi Studi Islam, PT, Rja Grapindo Persada, Jakarta

Read Full Post »

Sumber Hukum Ajaran Agama Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Dalam penetapan hukum dalam agama Islam harus dilandasi dengan pijakan atau alasan yang disebut dengan sumber hukum, sumber hukum yang dimaksud yaitu Al Quran dan as sunnah. Namun adakalanya timbul permasalahan-permasalahan baru yang timbul akibat berkembangnya jaman, oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan pijakan untuk menetapkan hukum perkara tersebut. Dengan didasari oleh hadits Nabi, para ulama berijtihad dan menyusun sistematika istinbat hukum.
Akan tetapi, dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer, istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. Maka dalam makalah inikami akan berusaha membahasnya dan akan kami sertakan sumber hukum utama yaitu Al Quran.
2. Pembahasan Makalah
Berdasarkan banyaknya permasalahan dalam ilmu Ushul Al Fikih, penulis membatasi masalah hanya pada permasalahan: Pengertian sumber dan dalil serta membahas salah satu sumber hukum yaituAl Quran.
3. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakan metode literatur atau kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sumber dan Dalil
1. Pengertian Dalil
Dalam kajian ushul fikih, para ulama ushul mengartikan dalil secara etimologis dengan “sesuatu yang dapat memberi petunjuk kepada apa yang dikehendaki”. Sementara itu, Abdul Wahab Khallaf menjelaskan bahwa, menurut bahasa yang dimaksud dengan dalil ialah “sesuatu yang meberi patunjuk kepada sesuatu yang dirasakan atau yang dipahami baik sifatnya hal yang baik maupun yang tidak baik”.
Adapun secara terminologis para ulama ushul berbeda dalam mendefinisikan dalil hukum. Abdul Wahab Khallaf menyebutkan, menurut istilahyang dimaksud dengan dalil hukum ialah “segala sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk dengan menggunakan pikiran yang benar untuk menetapkan hukum syara yang bersifat amali, baik secara qat’i maupun secara zhani”.
Ibnu al Subki dalam kitab Matn Jam’i al Jawami’ menyebutkan pula bahwa yang dimaksud dengan dalil hukum ialah “apa saja yang dapat dipergunakan untuk sampai kepada yang dikehendaki, yaitu hukum syara dengan berpijak pada pemikiran yang benar”.
Dari pengertian yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya yang disebut dengan dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan alasan atau pijakan yang dapat dipergunakan dalam usaha menemukan dan meneapkan hukum syara atas dasar pertimbangan yang benar dan tepat.
Oleh karena itu, dalam istinbat hukum persoalan yang paling mendasar yang harus diperhatikan adalah menyangkut apa yang menjadi dalil yang dapat dipergunakan dalam menetapkan hukum syara dari sesuatu persoalan yang dihadapi. Tentu saja, penetapan hukum syara harus didukung oleh pertimbangan yang tepat dan cermat dengan menggunakan dalil yang jelas.
2.Pengertian Sumber
Terhadap dalil hukum, ada sebutan lain di kalangan ulama ushul seperti istilah masadir al ahkam, masadir al syariah, masadir al tasyri atauyang diartikan sumber hukum. Istilah-istilah ini jelas mengandung makna tempat pengambilan atau rujukan utama serta merupakan asal sesuatu. Sedangkan dalil atauyang diistilahkan dengan adillat al ahkam, ushul al ahkam, asas al tasyri dan adillat al syari;ah mengacu kepada pengertian sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk sebagai alasan dalam menetapkan hukjum syara.
Dalam konteks ini Al Quran dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan sekaligus menjadi dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.
Akan tetapi, dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer, istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. Mereka menyatakan bahwa apayang disebut dengan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan as sunnah. Sebab, keduanya merupakan istilah teknis yang yang dipakai oleh para ulama ushul untuk menyatakan segala sesuatu yang dijadikan alasan atau dasar dalam istinbat hukum dan dalam prakteknya mencakup Al Quran, as sunnah dan dalil-dalil atau sumber-sumber hukum lainnya.
Oleh karena itu, dikalangan ulama ushul masalah dalil hukum ini terjadi perhatian utama atau dipandang merupakan sesuatu hal yang sangat penting ketika mereka berhadapan dengan persoalan-persoalan yang akan ditetapkan hukumnya. Dengan demikian setiap ketetapan hukum tidak akan mempunyai kekuatan hujjah tanpa didasari oleh pijakan dalil sebagai pendukung ketetapan tersebut.
Keberadaan dalil sebagai pijakan yang mendasari suatu ketetapan hukum mutlak harus diperhatikan dan tidak bisa diabaikan. Jika dilihat dari segi keberadaannya, maka dalil dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu:
1. Al Adillah Al Ahkam Al Manshushah atau dalil-dalil hukum yang keberadaannya secara tekstual terdapat dalam nash. Dalil-dalil hukum yang dikategorikan kepada bagian ini adalahAl Quran dan as sunnah atau disebut pula dengan dalil naqli.
2. Al Adillah Al Ahkam ghoirul Manshushah atau dalil-dalil hukum yang scara tekstual tidak disebutkan oleh nash Al Quran dan as sunnah. Dalil-dalil ini dirumuskan melalui ijtihad dengan menggunakan penalaran ra’yu dan disebut pula dengan dalil aqli.
Adapun dalil-dalil yang dikelompokkan kepada kategori terakhir ini meliputi Ijma, Qiyas, Istihsan, Mashalih Mursalah, Istishab, Urf, Syarun Man Qablana dan Qaul Shahabi. Ijma dan Qiyas hampir seluruh mazhab mempergunakannya, sedangkan dalil-dalil yang keberadaannya menimbulkan perdebatan di kalangan ulama mazhab ushul. Perbedaan ini muncul karena ketika ulama ushul tidak menemukan dalil atau alasan yang mendasari suatu hukum dari Nash, maka mereka menggunakan ra’yu mereka masing-masing dengan rumusan tersendiri. Hal ini diyakini termotivasi oleh hadits yang berisi dialog antara Nabi saw dengan Mu’az Bin Jabal ketika akan dikirim ke Yaman
Nabi bertanya kepada Mu’az Bin Jabal, “Bagaimana engkau memutuskan suatu perkara jika diajukan orang kepada engkau?”Mu’az menjawab, “saya akan putuskan dengan Kitab Allah”. Nabi bertanya kembali, ”jika tidak engkau dalam Kitab Allah?”. “Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah”, jawab Mu’az.
Dan Rasulullah bertanya kembali,”Jika tidak engkau temukan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah?”. Mu’az menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan”. Kemudian Rasulullah membenarkannya.
Atas dasar ini para ulama ushul di berbagai mazhab menyusun dan berpijak pada sistematika istinbat yang mereka susun masing-masing secara berurutan dengan menempatkan dalil-dalil ra’yu setelah Al Quran dan as sunnah
B. Sumber Hukum Islam
1. Al Quran
a. Pengertian Al Quran
Sebagaimana telah disinggung sebelum ini tentang sumber dalil dalam hukum Islam, maka Al Quran merupakan sumber utama dalam pembinaan hukum Islam.
Al Quran yang berasal dari kata qara’a yang dapat diartikan dengan membaca, namun yang dimaksud dengan Al Qura dalam uraian ini ialah,”kalamullah yang diturunkan berperantakan ruhul amin kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa arab, agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan agar menjadi pelajaran bagi orang yang mengikuti petunjuknya.
Menjadi ibadah bagi siapa yang membacanya, ia ditulis di atas lembaran mushaf, dimulai dengan surah Al Fatihah dan di akhiri dengan surah An Naas. Yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, baik melalui tulisan atau bacaan dari satu generai ke generasi berikutnya. Dan terpelihara dari perubahan dan pergantian .
Sebagaimana telah disebutkan bahwa sedikitpun tidak ada keraguan atas kebenaran dan kepastian isi Al Quran itu, dengan kata lain Al Quran itu benar-benar datang dari Allah. Oleh karena itu hukum-hukum yang terkandung di dalam Al Quran merupakan aturan-aturan yang wajib diikuti oleh manusia sepanjang masa. Banyak ayat-ayat yang menerangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang dari Allah.
Dalam surah An Nisa ayat 10 yang artinya, “Sesungguhnya telah kami turunkan kepada engkau (Muhammad) kitab Al Quran dengan membawa kebenaran”. Surah An Nahl ayat 89, “Dan telah kami turunkan kepada engkau (Muhammad) kitab Al Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan ia merupakan petunjuk, rahmat serta pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Quran yang menerangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang dari Allah.
Ditinjau dari sudut tempatnya, Al Quran turun di dua tempat yaitu:
1. Di Mekkah atau yang disebut ayat makkiyah. Pada umumnya berisikan soal-soal kepercayaan atau ketuhanan, mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, ayat-ayatnya pendek dan ditujukan kepada seluruh ummat. Banyaknya sekitar 2/3 seluruh ayat-ayat Al Quran.
2. Di Madinah atau yang disebut ayat madaniyah. Ayat-ayatnya panjang, berisikan peraturan yang mengatur hubungan sesama manusia mengenai larangan, suruhan, anjuran, hukum-hukum dan syari’at-syari’at, akhlaq, hal-hal mengenai keluarga, masyarakat, pemerintahan, perdagangan, hubungan manusia dengan hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, air dan sebagainya.
b. Mu’jizat Al Quran
Al Quran memiliki mu’jizat-mu’jizat yang membuktikan bahwa ia benar-benar datang dari Allah SWT. Menurut Mana’ Qattan di dalam buku Mabahits Fi Ulumil Quran menyebutkan bahwa Al Quran memilki mujizat pada 4 bidang yaitu:
a. Pada lafadz dan susunan kata. Pada zaman Rasulullah Syair sangat trend pada saat itu maka Al Quran turun dengan kata-kata dan susunan kalimat yang maha puitis, sehingga Al Quran memastikan bahwa tak ada seorangpun yang dapat membuat satu surah sekalipun semisal Al Quran. Seperti yang termaktub dalam surah Al Isra ayat 88, Hud ayat 13-14, Yunus ayat 38 dan Al Baqarah ayat 23.
b. Pada keterangannya, selain pada kata-katanya Al Quran juga memiliki mujizat pada artinya yang membuka segala hijab tentang hakikat manusiawi.
c. Pada ilmu pengetahuan. Di dalam terdapat sangat banyak pengetahuan baik hal yang zahir maupun yang gaib, baik masa sekarang maupun yang akan datang.
d. Pada penetapan hukum. Peraturan yang ada di dalam Al Quran bebas dari kesalahan karena ia berasal dari Tuhan Yang Maha Tahu atas segala ciptaanNya.
c. Fungsi Al Quran
Al Quran pertama kali turun di Gua Hira surah Al Alaq ayat 1-5 dan terakhir kali turun surah al Maidah ayat 3. Al Quran terdiri dari 30 juz, 144 surah, 6.326 ayat, 324.345 huruf . al quran berfungsi sebagai:
1. Sumber pokok dan utama dari segala sumber-sumber hukum yang ada. Hal ini dilandasi oleh ayat Al Quran di dalam surah An Nisa ayat 5.
2. Penuntun manusia dalam merumuskan semua hukum, agar tercipta kemaslahatan dan keselamatan harus berpedoman dan berwawasan Al Quran.
3. Petunjuk yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia dengan penuh rahmat kepada kebahagiaan umat manusia baik didunia maupun diakhirat dan sebagai ilmu pengetahuan.
Secara garis besar hukum dalam Al Quran ada 3 macam, yaitu aqidah, akhlaq dan syari’ah. Pada umumnya isi Al Quran dibagi 2 macam, ibadat dan muamalat. Dan isi pokok Al Quran ad 3 macam :
1. Rukun Iman, yaitu percaya kepada Allah, rasul-rasul, malaikat, Kitab Allah, hari kiamat dan kepada qadha dan qadar.
2. Rukun Islam, yaitu syahadt, salat, puasa zakat dan haji.
3. Munakahat (perkawinan), muamalat ( okum pergaulkan dalam masyarakat atau okum private), jinayat ( okum pidana), ‘aqdiyah ( okum mengenai mendirikan pengadilan), khalifah ( okum pemerintahan), ath’imah (makanan dan minuman)dan jihad ( okum peperangan).
d. Kehujjahan Al Quran
Al quran dari segi penjelasannya ada 2 macam, yang pertama muhkam yaitu ayat-ayat yang teran artinya, jelas maksudnya dan tidak mengandung keraguan atau pemahaman lain selain pemahaman yang terdapat pada lafaznya. Yang kedua mutasyabih yaitu ayat yang tidak jelas artinya sehingga terbuka kemungkinan adanya berbagai penafsiran dan pemahaman yang disebabkan oleh adanya kata yang memiliki dua arti/maksud, atau karena penggunaan nama-nama dan kiasan-kiasan.
Ibarat Al Quran dalam menetapkan dan menjelaskan hukum yang berupa perintah dan larangan ada beberapa model :
a. Suruhan, yang berarti keharusan untuk mengerjakan atau meninggalkan. Keharusan seperti perintah shalat, Allah berfirman yang artinya,”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat”. Larangan contohnya firman Allah dalam surah Al An’am ayat 151 yang artinya,”Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan hak”.
b. Janji baik dan buruk, pahala dan dosa serta pujian dan celaan.
c. Ibarat, contohnya seprti istri yang ditalak harus menjalankan masa iddah.
2. As-sunah atau Hadits
Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Rasul SAW, baik berupa perkataan, perbuatan dan penetapan pengakuan. Hadits berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat alqur’an yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat pada Al-Qur’an.
As-sunnah dibagi menjadi 4 macam yaitu :
a. Sunnah qauliyah yaitu semua perkataan Rasulullah saw
b. Sunnah fi’liyah yaitu semua perbuatan Rasulullah saw
c. Sunnah taqririyah yaitu penetapan dan pengakuan Nabi terhadap pernyataan dan pengakuan Nabi ataupun perbuatan orang lain
d. Sunnah hammiyah yaitu sesuatu yang telah dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan.
3. Sumber Pelengkap Ar-Ra’yu (Ijtihad)
Secara garis besar ayat-ayat Al-qur’an dibedakan atas ayat Muhkamat dan ayat mutsyabihat. Ayat muhkamat adalah ayat –ayat yang sudah jelas maksudnya dan hukum yang dikandungnya tidak memerlukan penafsiran. Pada umumnya bersifat perintah, seperti penegakan shalat, shaum, zakat dan haji.
Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang memerlukan penjelasan lebih lanjut walaupun dalam bunyinya sudah jelas mempunyai arti, seperti ayat mengenai gejala alam yang terjadi setiap hari.
Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang artinya mencurahkan tenaga dan fikiran atau bekerja semaksimal mungkin. Disini penulis akan menguraikan beberapa macam bentuk ijtihad antara lain :
1. Ijma’, yaitu kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad saw sesudah beliau wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah
2. Qiyas, yaitu mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya
3. Istihsan, yaitu suatu peroses perpindahan dari suatu qiyas kepada qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemadharatan atau dapat diartikan pola penetapan hukum suatu perkara yang menurut logika dapat dibenarkan
4. Maslahat mursalah, yaitu perkara-perkara yang perl dilakukan demi kemaslahatan manusia
5. Sududz Dzariah yaitu tindakan memutuskan perkara yang mudah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat
6. Istishab yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan dimasa lalu hingga dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut
7. Urf, yaitu sesuatu hal yang dilakukan terus-menerus (adat ) baik berupa perkataan ataupun perbuatan.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dalil secara etimologis dengan “sesuatu yang dapat memberi petunjuk kepada apa yang dikehendaki”. Secara terminologis dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan alasan atau pijakan yang dapat dipergunakan dalam usaha menemukan dan meneapkan hukum syara atas dasar pertimbangan yang benar dan tepat. Akan tetapi, dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer, istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. Mereka menyatakan bahwa apa yang disebut denagan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan as sunnah
Al Quran merupakan sumber utama dalam pembinaan hukum Islam. Al Quran yang berasal dari kata qara’a yang dapat diartikan dengan membaca, namun yang dimaksud dengan Al Qura dalam uraian ini ialah,”kalamullah yang diturunkan berperantakan ruhul amin kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa arab, agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan agar menjadi pelajaran bagi orang yang mengikuti petunjuknya.
Menjadi ibadah bagi siapa yang membacanya, ia ditulis di atas lembaran mushaf, dimulai dengan surah Al Fatihah dan di akhiri dengan surah An Naas. Yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, baik melalui tulisan atau bacaan dari satu generai ke generasi berikutnya. Dan terpelihara dari perubahan dan pergantian.
2. Saran
Saran yang ingin penulis sampaikan hendaklah kita jadikan Al-qur’an dan As-sunah sebagai landasan hidup kita didunia, dari segala apa yang kita perbuat agar tidak terjadi penyimpangan dalam memahami ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, sulaiman. 1995. Sumber Hukum Islam. Jambi : Sinar Grafika.
Abdurachman, Asmuni. 1985. Filsafat Hukum Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Al subki, ibn. t.t. Matn jam’i Al Jawa’I .Juz I dan II, Indonesia: Maktabah Dar Ihya Al Kitab Al Arabiyah.
Bakry Nazar. 2003. Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada..
Djamil, Fathurrahman. 1997. Filsafat Hukum Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Karim, Syafi’i. 2001. Fiqih Ushul Fiqih. Bandung : Pustaka setia.
Khallaf, Abdul Wahab. 1972. Fi Ulumil ushul Fiqih. Kairo : Maktabah Da’wah Islamiyah.
Muhammad Syah, Ismail. 1991. Filsafat Hukum Islam : Jakarta : Bumi Aksara.
Romli. 1999 .Muqaranah Mazahib Fil Ushul. Jakarta : Gaya Media Pratama
Qattan, Manna’. 1973 . Mabahits Fi Ulumil Qur’an. Riyadh : Mansyuratul ‘Asril Hadi

Read Full Post »

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pramuka merupakan suatu wadah yang didalamnya terdapat suatu pendidikan untuk menguatkan mental, spiritual manusia. Sekarang gerakan kepanduan ii mempunyai anggota dari 217 negara dan teritori.
Gerakan pramuka ini lahi di Indonesia dan disambut baik oleh masyarakat Indonesia, lahirnya pun ditandai dengan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan :
1. Pidato presiden / mandataris MPRS dihadapan para tokoh masyarakat dan organisasi kepanduan pada tanggal 9 maret 1961, sehingga hari tersebut sebagai “ HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA”.
2. Diterbitkannya Kepres No. 238 tahun 1961 tanggal 20 Mei 1961 tentang gerakan pramuka yang menetapkan gerakan pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan atau hari permulaan bangkitnya gerakan Pramuka
3. Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas melebur digerakan pramuka yang bertempat di istora senayan pada tanggal 31 juli 1961 atau disebut juga hari ikrar Gerakan Pramuka
4. Pelantikan MAPINAS, Kwarnas dan Kwarcab di Istana Negara dan diikuti Defile Pramuka yang di ……penganugrahan panji-panji Gerakan pramuka, yaitu pada tanggal 14 Agustus 1961, atau disebut sebagai hari jadi gerakan pramuka di Indonesia.
Namun di era tekhnologi modern seperti sekarang ini, kegiatan pramuka menjadi bomerang bagi para remaja di Indonesia, dan hampir terkalahkan dengan yang lain sehingga perlu disusun program kegiatan pramuka yang dinamis bagi bangsa ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka penyusun merumuskan masalah untuk dikaji. Masalah pokok dalam pembahasan ini dapat dirumuskan sebagai berikut
1. Apa hakikat program dan kegiatan ?
2. Bagaimana penyusunan program kegiatan yang dinamis?
3. Apa saja bentuk –bentuk kegiatan pramuka yang dinamis ?
4. Apa metode dan prinsip yang harus digunakan dalam kegiatan Pramuka ?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hakikat program dan kegiatan
2. Untuk mengetahui program kegiatan yang dinamis
3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kegiatan yang dinamis.
4. Untuk mengetahui metode dan prinsip yang harus digunakan dalam kegiatan pramuka.

D. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakann metode literatur atau kepustakaan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Program dan Kegiatan
Program adalah suatu sistem ataupun cara untuk mengatur jalannya suatu kegiatan agar tersusun secara sistematis, program juga bisa dikatakan planning atau rencana, maka dalam kegiatan pramuka juga mempunyai program untuk mendidik peserta didiknya.
Kegiatan adalah suatu rangkaian acara, atau peristiwa. Kegiatan ini mempunyai fungsi yang dominan dalam aplikasi pembelajaran khususnya di Pramuka. Kegiatan juga terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Ruangan ( Indor)
Kegiatan ini dilaksanakan didalam ruangan baik dikelas maupun ditempat tertutup lainnya, seperti penyampaian materi dan lainnya.
b. Luar Ruangan ( out dor)
Kegiatan ini disampaikan dilapangan atau di alam terbuka. Seperti penyampaian permainan perkemahan, kemping dan lain-lain.

B. Penyusunan Program Kegiatan yang Dinamis
Melihat pentingnya program Pendidikan dalam pramuka, maka dalam memberikan didikan/ pelajaran kepada anak didik itu harus tahap demi tahap ( step by step) karena tidak mungkin kalau memberikan suatu materi secara langsung semua diajarkan, maka dari itu tujuan pendidikan harus periodik ( jangka waktu tertentu ). Untuk menyusun kegiatan ini harus dibuat program yang teratur supaya kegiatan tidak simpang siur. Program juga ada yang tertulis sebagai landasan peta perjalanan.
Kegiatan ini menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha pendidikan yang kita lakukan sebagai evaluasi selanjutnya.
a. Program harus sesuai dengan perkembangan jiwa anak didik
a. Harus sesuai dengan azas bahwa anak sebagai objek pendidikan ( child Centered Education ) juga harus diperhatikan minat dan skill anak tersebut
b. Sesuaikan dengan latar belakang sosial ekonominya
c. Perlu diadakannya pengamatan terhadap perkembangan jiwa anak didik
Cara untuk mengamati kejiwaan anak didik :
a. Menggunakan metode doservasi
Dengan cara melihat, mendengar dan mengerti gejala-gejala tingkah laku serta perubahan peserta didik
b. Test
Test ini dalam artian mengevaluasi semua perkembangan anak, baik dengan intelegensi test ( kecerdasan ), Psychotest ( test kejiwaan ), test fisik, mental dan lain-lain.
c. Intervew
Dari semua cara mengamati kejiwaan anak tersebut, kita dapat memahami perkembangan anak baik yang positif seperti kejujuran, kebersamaan, kepemimpinan dan kegemaran atau dari segi negatifnya seperti kecurangan, kurang disiplin dan lain-lain. Namun itu semua tidak lepas dari situasi dan kondisi terhadap peserta didik.
b. Tujuan
1. Agar dapat dijamin bahwa kegiatan yang dilakukan mengarah pada tercapainya sasaran dan tujuan kegiatan
2. Agar kegiatan dilakukan secara teratur, tertib, berdaya guna dan tepat guna.
3. Memudahkan kerja sama dan hubungan kerja antara semua petugas yang bersangkutan
4. Memudahkan pengawasan dan penilaian pelaksana kegiatan
5. memudahkan menyusun laporan pertanggung jawaban
c. Penyusunan
1. Penyusunan program kerja disusun oleh pembina satuan dewan pengurus satuan anggota Pramuka dalam suatu musyawarah
2. Rencana kegiatan, disusun oleh mereka yang bersangkutan dengan kegiatan program kerja memuat pokok-pokok kegiatan semua bidang dan waktu pelaksanaannya serta perkiraan biayanya.
Rencana kegiatan pada umunya hampir sama dengan proposal, yakni adanya pendahuluan, tempat dan waktu kegiatan, jumlah peserta dan panitia, acar pokok biaya dan perlengkapan dan lain-lain yang dianggap perlu.

C. Bentuk-bentuk Kegiatan Pramuka yang Dinamis
Pada umumnya kegiatan pramuka bersifat dinamis , yang membuat perubahan terhadap anggota pramuka bukanlah dari kegiatannya tapi bagaimana anggota pramuka tersebut mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya, namun juga banyak kegiatan pramuka yang perlu diutamakan dalam pendidikan pramuka diantaranya :
1. Upacara sebagai kegiatan pendidikan yang dinamis
Upacara dikatakan sebaga kegiatan pendidikan, karena dari kegiatan inilah anggota pramuka dapat menerapkan sikap kedisiplinannya, baik dari waktu, kerapihan dan tanggung jawab yang lainnya. Upacara juga sebagai alat untuk menumbuhkan jiwa patriotisme. Upacara dalam gerakan pramuka banyak sekali bentuknya antara lain :
1. Upacara mulai latihan ( apel datang )
2. Upacara akhir latihan ( apel pulang )
3. Upacara adat
4. Upacara kenaikan tingkat
5. Upacara pelantikan anggota Pramuka
6. Upacara serah terim jabatan
2. Perkemahan
Perkemahan merupakan bentuk kegiatan diluar ruangan, bagi anggota pramuka sebagai upaya menanamkan jiwa sosial bermasyarakat, disana anggota pramuka dapat merasakan hidup jauh dari rumah dan serasa berada dilingkungan masyarakat, sehingga akan tercipta kemandirian dan ini juga sebagai aplikasi dari Try satya no. 2.
Perkemahan banyak sekali bentuknya yang disesuaikan dengan tingkatan golongan peserta didik dan tingkat ruang lingkup, sebagai berikut :
a. Pesta Siaga untuk siaga
b. Jambore untuk Penggalang
c. Raimuna untuk penegak dan pandega
Lomba Tingkat ( LT )
Lomba tingkat ialah perlombaan bagi anggota pramuka untuk mengevaluasi hasil dari latihannya atau pendidikannya. Lomba tingkat ini dimulai dari :
a. Lomba tingkat ( LT ) I untuk tingkat gugus depan
b. Lomba tingkat ( LT ) II untuk tingkat kwartir ranting
c. Lomba tingkat ( LT ) III untuk kwartir cabang
d. Lomba tingkat ( LT ) IV untuk kwartir daerah
3. Bakti sosial
Bakti sosial ini merupakan suatu kegiatan yang positif dan harus dikembangkan kepada peserta didik sejak dini karena dengan kegiatan ini peserta didik akan mempunyai jiwa sosial yang baik.
Bakti sosial ini juga dimaksudkan agar anggota pramuka dapat terlihat dimasyarakat dalam upaya ikut serta membangun masyarakat. Bakti sosial banyak sekali bentuknya baik berupa reboisasi maupun pembangunan, ada juga perkemahan yang isinya bakti sosial seperti perkemahan wirakarya dan lain-lain.
Maka dari kegiatan ini peserta didik dapat mempunyai jiwa sosial dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

D. Metode dan Prinsip Dalam Kegiatan Pramuka
1. Metode
Metode yang baik digunakan pada kegiatan pramuka yakni “ Dinamika kelompok “ karena dengan metode ini anggota pramuka akan mempererat tali silaturahmi serta luas dalam wawasannya
2. Prinsip kepramukaan
a. Prinsip sukarela adalah prinsip yang mengutamakan kepedulian umum, dalam menjalani kegiatan disertai rasa ikhlas sebagai pengabdian
b. Prinsip kehormatan pramuka, artinya dalam melaksanakan kegiatan pramuka dilandasi kode etik pramuka yakni Try satya dan Dasa darma
c. Tanda kecakapan, untuk menambah motivasinya maka diperlukan penghargaan bagi anggota pramuka berprestasi atau ikut serta kegiatan dengan tanda kecakapan
d. Beregu, dalam setiap kegiatan menggunakan prinsip beregu atas asas persatuan
e. Sesuai perkembangan teknologi, sebagai anggota pramuka teknologi merupakan hal yang sangat penting, agar tidak gaptek maka adanya suatu kegiatan yang memakai unsur teknologi seperti jambore on the air ( jota ) dan jambore on the net ( joti )
f. Satuan terpisah, yakni dalam pengelompokan dan sistem keorganisasian pramuka dipisahkan antara pramuka putri dan putra atau satuan terpisah ( SAPI ).

BAB III
PENUTUP

Demikianlah makalah ini kami susun, mohon maaf atas segala kesalahan baik dalam penulisan maupun rumusan materi. Oleh karena itu, penyusun mohon kritik dan saran serta bimbingannya kepada Kak Rifyal Luthfi S.PdI selaku dosen kepramukaan khususnya, umumnya kepada pembaca semuanya.
Tak ada gading yang retak, itulah kata pepatah, begitu juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Serta mudah-mudahan Makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan khususnya bagi kami, walaupun masih dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

AD/RT, Gerakan Pramuka, Kwarnas, 2005

Kegiatan Pramuka, wikip media. net

Pedoman Kegiatan Pramuka:1995

Rahman, Adun, Ringkasan kegiatan Pramuka, 2008

Read Full Post »